ANCAMAN TERSELUBUNG DI BALIK ASAP: MENGUNGKAP DAMPAK DESTRUKTIF ROKOK TERHADAP KESEHATAN RONGGA MULUT

ANCAMAN TERSELUBUNG DI BALIK ASAP: MENGUNGKAP DAMPAK DESTRUKTIF ROKOK TERHADAP KESEHATAN RONGGA MULUT

ROKOK, BUMERANG PENGHANCUR SENYUM DAN KESEHATAN

Kebiasaan merokok telah lama menjadi isu kesehatan masyarakat yang kompleks dan mendunia. Meskipun kesadaran akan dampak negatif rokok terhadap organ vital seperti paru-paru dan jantung terus meningkat, prevalensi perokok di berbagai belahan dunia masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Melansir dari World Population Review, Indonesia menempati peringkat kelima di dunia dengan 74,5% pria dan 3% wanita tercatat sebagai perokok. Lebih lanjut, Badan Pusat Statistik telah mendata persentase perokok di Indonesia menurut kelompok umur. Data menunjukkan masyarakat telah mulai merokok sejak usia 15 tahun, dengan persentase sebesar 9,84% pada kelompok umur 15-19 tahun. Angka ini secara signifikan mengindikasikan adanya inisiatif merokok di usia yang sangat muda, sebuah kondisi yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang yang serius bagi generasi muda (BPS, 2024).

Persepsi publik umumnya terfokus pada penyakit sistemik yang berat, seperti kanker paru atau penyakit jantung koroner, menjadikan risiko terhadap kesehatan rongga mulut seringkali terabaikan atau dianggap kurang signifikan (Ahmed et al., 2021). Rokok sesungguhnya adalah ancaman terselubung yang fatal bagi kesehatan gigi dan mulut. Paparan asap rokok secara kronis memicu respons inflamasi, menghambat fungsi kekebalan tubuh di dalam mulut, dan mengubah mikrobioma oral secara drastis. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi perkembangan berbagai penyakit (Mohammed et al., 2024). Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai hubungan antara kebiasaan merokok dan kerusakan rongga mulut menjadi krusial.

MEKANISME ZAT KIMIA ROKOK MERUSAK EKOSISTEM RONGGA MULUT

Sebatang rokok mengandung 400 senyawa kimia, 400 zat berbahaya, dan 43 zat penyebab kanker (karsinogenik). Zat   kimia   yang   dikeluarkan   ini   terdiri   komponen   gas   (85%)   dan   partikel.   Nikotin,   gas karbon monoksida,  nitrogen  oksida,  formaldehid, hidrogen  sianida,  amoniak,  akrolein,  asetilen,  benzaldehid, urethan,  benzen,  methanol,  kumarin,  4-etilkatekol,  ortokresol,  dan  perylene  adalah  sebagian  dari beribu ribu zat di dalam rokok (Murniasih, 2024). Saat asap rokok dihisap, zat-zat ini langsung mengenai mukosa oral, air liur, dan mikrobioma mulut. Nikotin menyebabkan vasokonstriksi yang mengurangi aliran darah ke gusi, menghambat suplai oksigen dan nutrisi, sehingga memperlambat proses penyembuhan jaringan. Tar bersifat lengket, menyebabkan partikel racun melekat pada mukosa dan gigi, menimbulkan iritasi dan perubahan progresif pada sel epitel mulut (Hermawati et al., 2023). Karbon monoksida mengikat hemoglobin, menurunkan kapasitas angkut oksigen dalam darah, yang melemahkan resistensi jaringan terhadap infeksi. Berbagai karsinogen merusak DNA dan memicu mutasi genetik yang bisa berujung pada kanker mulut (Nurprilinda, 2024). 

Dampaknya pada lingkungan biologis mulut mencakup penurunan aliran saliva dan penurunan pH saliva, sehingga menciptakan kondisi asam yang mendukung pertumbuhan bakteri patogen penyebab karies dan penyakit periodontal. Vasokonstriksi akibat nikotin memperlambat detoksifikasi dan penyembuhan jaringan, menjadikan gusi lebih rentan inflamasi dan nekrosis. Perubahan mikrobioma oral terlihat dari menurunnya bakteri baik dan meningkatnya bakteri patogen seperti Porphyromonas gingivalis serta jamur Candida spp. (Sever et al., 2023). Selain itu, kandungan tar menyebabkan permukaan gigi kasar dan mempercepat pembentukan plak serta kalkulus yang menjadi tempat berkembangnya bakteri berbahaya.   Rokok juga menghambat fungsi imun lokal di rongga mulut. Proses seperti kemotaksis, fagositosis, dan pembentukan neutrophil extracellular traps (NETs) oleh neutrofil mengalami penurunan, sehingga kemampuan tubuh dalam membasmi bakteri pun melemah. Tidak hanya itu, makrofag mengalami perubahan menuju fenotipe anti-inflamasi, yang berakibat pada penurunan respons imun yang efektif dan memperpanjang kondisi peradangan kronis. Di sisi lain, produksi imunoglobulin A (IgA) dalam saliva juga menurun, sehingga pertahanan mukosa mulut terhadap patogen menjadi semakin lemah (Purbasari et al., 2022). Akibatnya, infeksi dan inflamasi pada rongga mulut lebih mudah berkembang dan sulit untuk sembuh secara optimal (Ramadhani et al., 2022).

ROKOK MEMICU KERUSAKAN VISUAL DAN FUNGSIONAL RONGGA MULUT

Merokok menyebabkan dampak estetika dan fungsional minor yang mencolok pada rongga mulut. Salah satu manifestasi utamanya ialah diskolorasi gigi, baik berupa noda ekstrinsik akibat penumpukan zat tar dan nikotin pada permukaan gigi, maupun noda intrinsik yang lebih sulit dihilangkan karena melibatkan perubahan struktur warna dalam enamel. Tak hanya itu, perokok juga kerap mengalami halitosis kronis atau bau mulut tidak sedap yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri anaerob di rongga mulut (Sever et al., 2023). Di samping itu, penurunan sensitivitas rasa pun kerap terjadi akibat kerusakan pada reseptor pengecap serta terganggunya suplai darah ke lidah dan jaringan oral sekitarnya (Nurprilinda, 2024).

Kebiasaan merokok juga turut mempercepat dan memperburuk perkembangan penyakit periodontal. Gingivitis pada perokok cenderung berkembang lebih agresif menjadi periodontitis, yang ditandai dengan proses inflamasi yang intens, disertai kerusakan ligamen periodontal serta resorpsi tulang alveolar yang berperan sebagai struktur penyangga gigi yang krusial. Akibatnya, gigi menjadi goyang, bahkan berisiko tanggal. Tak hanya memperparah kondisi, paparan asap rokok juga menghambat proses penyembuhan alami dan regenerasi jaringan periodontal, sehingga infeksi kronis menjadi lebih sulit untuk diatasi (Prasetyowati et al., 2022).

Di sisi lain, mulut kering (xerostomia) yang umum dialami perokok turut menciptakan lingkungan rongga mulut yang lebih asam, mendukung pertumbuhan bakteri kariogenik seperti Streptococcus mutans (Ramadhani et al.,2022). Kondisi ini secara langsung mengurangi efektivitas saliva dalam menetralisir asam dan membersihkan sisa makanan, sehingga mempercepat proses demineralisasi enamel dan meningkatkan risiko terjadinya karies. Bersamaan dengan itu, perubahan mikrobioma mulut dan lemahnya respons imun lokal menyebabkan perokok lebih rentan mengalami kegagalan pada restorasi gigi, termasuk implan, karena lingkungan rongga mulut yang tidak mendukung proses penyembuhan serta lebih mudah terinfeksi (Ariani et al., 2023).

ROKOK MEMICU PENYAKIT GANAS RONGGA MULUT

Merokok telah dikaitkan dengan berbagai masalah rongga mulut, tetapi peran tembakau sebagai faktor risiko utama dan paling signifikan untuk berkembangnya kanker rongga mulut adalah aspek yang paling mengkhawatirkan. Kanker rongga mulut, yang mencakup area mulut, bibir, lidah, pipi, dan tenggorokan, adalah kondisi yang serius dan berpotensi mengancam jiwa (Natarajan et al., 2025). World Health Organization (WHO) dan berbagai lembaga kesehatan terkemuka telah berulang kali menegaskan bahwa merokok adalah penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker mulut dan orofaringeal (WHO, 2021). Perokok memiliki risiko 8,4 kali lebih tinggi terkena kanker rongga mulut, dan perokok aktif memiliki risiko enam kali lebih tinggi dibandingkan non-perokok aktif. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki kebiasaan merokok, kewaspadaan terhadap setiap perubahan di dalam rongga mulut menjadi krusial.

Penting untuk mengenali tanda-tanda peringatan dini di rongga mulut yang berpotensi menjadi ganas, terutama pada individu perokok. Lesi prakanker mulut adalah perubahan jaringan abnormal pada rongga mulut yang berpotensi berkembang menjadi kanker mulut jika tidak ditangani. Dua jenis lesi prakanker mulut yang paling umum adalah leukoplakia, eritroplakia, dan Oral Submucous Fibrosis (OSF).

  • Leukoplakia, tampak sebagai bercak putih atau abu-abu pada mukosa mulut, yang tidak dapat dikikis dan tidak tidak dapat diklasifikasikan secara klinis dan patologis pada entitas penyakit lainnya.

Gambar 1. Tampilan Klinis Laukoplakia

  • Eritroplakia, muncul sebagai bercak merah halus yang sering dikaitkan dengan risiko transformasi ganas yang lebih tinggi dibandingkan dengan leukoplakia.

Gambar 2. Tampilan Klinis Eritroplakia

  • Oral Submucous Fibrosis (OSF), ditandai dengan perubahan fibrotik pada mukosa mulut, yang menyebabkan pembukaan mulut yang terbatas, sensasi terbakar, dan perubahan yang berpotensi menjadi ganas (Jordan, 2023).

Gambar 3. Tampilan Klinis Oral Submucous Fibrosis (OSF).

Proses merokok dapat menyebabkan kanker mulut sangat kompleks dan memiliki banyak aspek. Karsinogen dalam asap tembakau secara langsung merusak DNA sel-sel mukosa mulut, memicu mutasi genetik yang mengarah pada pertumbuhan sel tidak terkontrol. Selain itu, rokok melemahkan sistem kekebalan tubuh, menghambat kemampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan DNA dan melawan sel-sel abnormal. Peradangan kronis yang disebabkan asap rokok juga turut merusak sel-sel sehat. Risiko ini diperparah secara sinergis oleh konsumsi alkohol, yang bertindak sebagai pelarut dan meningkatkan penyerapan karsinogen ke dalam jaringan oral, mempercepat proses karsinogenesis dan secara drastis meningkatkan kemungkinan berkembangnya kanker mulut (Natarajan et al., 2025).

IMPLIKASI DAN PENCEGAHAN: LINDUNGI KESEHATAN RONGGA MULUT DARI BAHAYA ASAP

Mengingat spektrum kerusakan yang luas dan progresif, dari masalah estetika hingga risiko keganasan, penyebaran informasi yang akurat dan komprehensif mengenai dampak rokok pada kesehatan gigi dan mulut menjadi kunci untuk mendorong perubahan perilaku. Edukasi yang efektif tidak hanya bertujuan untuk menakuti, melainkan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat membuat keputusan yang lebih sehat. Upaya ini harus didukung oleh kebijakan publik, seperti penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang secara signifikan telah terbukti mengurangi paparan asap rokok, baik bagi perokok aktif maupun pasif, dan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih sehat (KEMENKES, 2011).

Langkah pencegahan paling efektif dan transformatif adalah dengan berhenti merokok. Berhenti merokok memberikan manfaat signifikan dan komprehensif bagi kesehatan rongga mulut. Secara periodontal, penghentian kebiasaan ini secara nyata memperbaiki kesehatan gusi, mengurangi patogen periodontal, serta meningkatkan keberhasilan dan waktu pemulihan pasca prosedur perawatan gigi, seperti implan. Selain itu, berhenti merokok juga meningkatkan estetika gigi dengan mengurangi noda kuning pada gigi dan memperbaiki kebersihan mulut. Berhenti merokok dapat secara drastis mengurangi risiko kanker mulut; menurut penelitian, risiko kanker ini dapat menurun hingga 50% dalam kurun waktu lima tahun setelah berhenti merokok, karena tubuh memiliki kesempatan untuk memperbaiki kerusakan DNA sel akibat paparan karsinogen (Pandit & Garg, 2025).

Menuju gaya hidup bebas rokok, peran profesional kesehatan gigi tidak dapat dikesampingkan. Mereka memiliki posisi unik untuk memberikan intervensi singkat yang dapat memotivasi pasien untuk berhenti, terutama melalui protokol “5A’s” yang mencakup Ask, Advise, Asses, Assist, dan Arrange. Meskipun terdapat hambatan seperti keterbatasan waktu, kurangnya pelatihan, dan kurangnya kepercayaan diri, para profesional ini dapat merujuk pasien ke layanan berhenti merokok seperti quitlines yang terbukti efektif. Dengan mengintegrasikan konseling berhenti merokok sebagai bagian rutin dari praktik mereka, profesional kesehatan gigi menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan dukungan, sehingga berkontribusi signifikan dalam mengurangi beban penyakit terkait rokok secara global (Gurung et al., 2022).

KESIMPULAN 

Rokok membawa ancaman serius dan terselubung bagi kesehatan rongga mulut yang berdampak luas, mulai dari gangguan estetika seperti diskolorasi gigi dan halitosis, hingga kerusakan fungsional seperti periodontitis, karies, dan bahkan kanker mulut yang mengancam jiwa. Kandungan ribuan zat kimia beracun dalam asap rokok secara langsung merusak jaringan mulut, mengganggu keseimbangan mikrobioma, menurunkan sistem imun lokal, serta memicu peradangan kronis dan mutasi genetik. Risiko ini semakin tinggi apabila kebiasaan merokok dimulai sejak usia muda dan berlangsung dalam jangka panjang. Oleh karena itu, langkah pencegahan melalui edukasi yang menyeluruh, implementasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), serta dukungan aktif dari tenaga kesehatan gigi dalam memberikan intervensi dan motivasi berhenti merokok menjadi sangat krusial demi menjaga kesehatan rongga mulut dan mencegah dampak destruktif rokok yang bersifat progresif dan fatal.

PENULIS

Ni Made Mas Indira Patanjali

Komang Savitri Prabhaswarajnana Ksatria Utami

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, N., Arshad, S., Basheer, S. N., Karobari, M. I., Marya, A., Marya, C. M., Taneja, P., Messina, P., Yean, C. Y., & Scardina, G. A. (2021). Smoking a Dangerous Addiction: A Systematic Review on an Underrated Risk Factor for Oral Diseases. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(21), 11003. https://doi.org/10.3390/ijerph182111003.

Ariani, D., Herawati, M., & Akhvina, N. (2023). Kontribusi Durasi Merokok sebagai Penyebab Terjadinya Karies Gigi pada Penghuni Panti Sosial. e-GiGi, 11(2), 134-142.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok Tembakau selama Sebulan Terakhir Menurut Kelompok Umur (Persen), 2024. Diakses dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTQzOCMy/persentase-merokok-pada-penduduk-umur—15-tahun-menurut-kelompok-umur.html

Gurung, D., Bhardwaj, V., Fotedar, S., & Thakur, A. (2022). Role of dental health professional in tobacco cessation: a review. International Journal Of Community Medicine And Public Health. 9(8). 3346-3353. https://dx.doi.org/10.18203/2394-6040.ijcmph20222044

Hermawati, A. H., Pratiwi, C. D., ST, S., & Lathifah, Q. A. Y. (2023). Nikotin, Tembakau, Dan Rokok. Penerbit Andi.

Jordan, R. (2023). Oral Precancerous Lesions: Identification, Risk Assessment and Management. Opinion: Oral Health Case Report, 9(3).

Kementerian Kesehatan (KEMENKES) Republik Indonesia. (2011). Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok.

Mohammed, L. I., Zakaria, Z. Z., Benslimane, F. M., & Al-Asmakh, M. (2024). Exploring the role of oral microbiome dysbiosis in cardiometabolic syndrome and smoking. Experimental Lung Research, 50(1), 65–84. https://doi.org/10.1080/01902148.2024.2331185

Murniasih, E. (2024). Rokok Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Initium Community Journal, 4(2), 27–33.

Natarajan, P. M., Swamikannu, B., Bhavani, L., Kamaraj, B., Kamaraj, L., & Veerakumar, R. (2024). Smoking and its Role in Oral Cancer. Journal of pharmacy & bioallied sciences, 16(Suppl 5), S4242–S4244. https://doi.org/10.4103/jpbs.jpbs_1305_24

Nurprilinda, M. (2024). Faktor Risiko Kanker Rongga Mulut.

Pandit, S. & Garg, D. (2025). Quit to heal: How smoking cessation improves oral health outcomes” A review. International Journal of Dental Research, 7(1), 1-3. 

Prasetyowati, S., Puspitasari, E. P., & Soesilaningtyas, S. (2022). Systematic literature review: Pengaruh kebiasaan merokok terhadap penyakit jaringan periodontal pada masyarakat di Indonesia. Jurnal Kesehatan Gigi Dan Mulut (JKGM), 4(1), 35-39.

Purbasari, E., Erikardo, O., & Jasmine, R. A. (2022). Relationship of Smoking Habits to The Potential of Hydrogen (pH) of Saliva in Active Smokers. Jurnal Eduhealth, 13(02), 881–886.

Ramadhani, A. I. K., Tjahajawati, S., & Pramesti, H. T. (2022). Perbedaan volume, pH saliva dan kondisi rongga mulut wanita perokok dan non perokok / The differences of salivary volume, pH and oral cavity conditions of women smokers and non-smokers. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 34(2), 100–108.

Sever, E., Božac, E., Saltović, E., Simonić-Kocijan, S., Brumini, M., & Glažar, I. (2023). Impact of the Tobacco Heating System and Cigarette Smoking on the Oral Cavity: A Pilot Study. Dentistry Journal, 11(11), 251.

World Health Organization (WHO). (2021). Tobacco control. Diakses dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tobacco.

World Population Review. (2025). Smoking Rates by Country 2025. Diakses dari https://worldpopulationreview.com/country-rankings/smoking-rates-by-country.

#HMKGSarkara

#SatuRasaDedikasi

#FKUnud

#VivaHippocrates

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *