ERA DIGITAL MENYAPA DUNIA KEDOKTERAN GIGI
Era digital telah menjadi babak baru dalam perjalanan pendidikan kedokteran gigi. Kehadiran teknologi modern khususnya Artificial Intelligence (AI), membuka ruang pembelajaran yang lebih interaktif dan efisien. Mahasiswa kini tidak lagi hanya bergantung pada buku teks atau praktikum konvensional, melainkan juga pada simulasi berbasis komputer, atlas digital, serta akses instan ke jurnal internasional. AI hadir sebagai mitra yang mampu menganalisis radiograf, memprediksi prognosis kasus, hingga menyajikan simulasi klinis yang memperkaya pengalaman belajar. Kehadiran teknologi ini menandai pergeseran paradigma: dari metode tradisional menuju pembelajaran yang adaptif dan personal, di mana setiap mahasiswa dapat memperoleh materi sesuai kebutuhan dan kelemahan masing-masing (Apdillah & Sari, 2025).
Penerapan AI dalam pendidikan kedokteran gigi dapat meningkatkan akurasi prosedural, memperkuat interpretasi radiografi, serta menyederhanakan proses penilaian melalui umpan balik yang lebih objektif dan personal. Inovasi ini sejalan dengan tren pendidikan berbasis kompetensi dan berpusat pada mahasiswa. Namun, integrasi sistematis AI ke dalam kurikulum masih menghadapi tantangan, yaitu keterbatasan pengetahuan fakultas, kesiapan infrastruktur, hingga isu etis seperti privasi data dan bias algoritmik (El-Hakim, 2025). Keseimbangan pun menjadi kunci dalam menghadapi perubahan ini, sebab teknologi idealnya berfungsi sebagai tools yang memperkuat kompetensi, bukan crutches yang melemahkan kemandirian. Era digital menyapa dengan ramah, tetapi mahasiswa dituntut untuk menyambutnya dengan sikap kritis agar AI benar-benar menjadi solusi cerdas, bukan awal dari ketergantungan. Era digital bukan sekadar tren, melainkan ujian: apakah kita akan menjadi pengendali teknologi, atau justru dikendalikan olehnya? Pilihan tersebut kini berada di tangan mahasiswa kedokteran gigi dan akan menentukan arah masa depan profesi.
AI, SAHABAT BELAJAR ATAU SEKADAR ALAT INSTANT?
Kecerdasan buatan (AI) harus diposisikan sebagai sahabat belajar yang suportif dan transformatif, bukan sekadar alat instan. Secara positif, AI telah secara signifikan memengaruhi pendidikan kedokteran gigi dengan meningkatkan akurasi prosedural, memperkuat kepercayaan diri diagnostik, dan merampingkan efisiensi penilaian. AI mendukung pembelajaran personal dengan menyediakan umpan balik adaptif yang menargetkan kelemahan spesifik mahasiswa. Mayoritas mahasiswa (65%) memiliki pandangan positif terhadap AI, mengakui potensinya untuk meningkatkan akurasi diagnostik dan mengurangi beban kerja klinis di masa depan. Antusiasme ini menunjukkan pengakuan luas terhadap kemampuan AI untuk melengkapi dan mempercepat hasil pembelajaran spesifik (Amiri et al., 2024).
AI meningkatkan efisiensi proses akademik melalui otomatisasi penilaian dan analisis prediktif. Dengan menggunakan Large Language Models (LLM), AI dapat membantu menciptakan materi edukasi dan kuis yang terstandarisasi. Lebih penting lagi, model Machine Learning (ML) dapat memprediksi kinerja akademik mahasiswa, bahkan memprediksi potensi kegagalan di awal masa studi dengan akurasi tinggi. Kemampuan untuk mengidentifikasi mahasiswa berisiko ini memungkinkan institusi pendidikan beralih dari manajemen pembelajaran yang reaktif menjadi pendekatan proaktif. Dengan intervensi akademik yang ditargetkan di awal, peluang mahasiswa untuk berhasil menjadi jauh lebih besar, sekaligus memitigasi risiko kegagalan akademis yang signifikan (El-Hakim, 2024).
Meskipun manfaatnya besar, AI tidak boleh menggantikan penilaian klinis dan pengambilan keputusan mandiri. AI masih memiliki keterbatasan dalam menilai kompetensi bernuansa dan subjektif, seperti ketangkasan tangan (dexterity) dan penilaian klinis yang holistik. Terdapat risiko serius mahasiswa menjadi terlalu bergantung, yang dapat melemahkan penalaran klinis independen mereka. Oleh karena itu, AI bukanlah “alat instan” yang bisa diandalkan sepenuhnya. Integrasi AI yang bertanggung jawab harus bersifat melengkapi (complementary), didukung oleh struktur tata kelola yang jelas, demi menjaga kualitas pembelajaran dan penilaian manusia (El-Hakim, 2024).
DAMPAK KETERGANTUNGAN DAN HILANGNYA NALAR KRITIS
Kemudahan yang diberikan AI membuat mahasiswa semakin terbiasa mendapatkan jawaban secara cepat, tanpa perlu melalui proses berpikir mendalam. Hal ini dapat menyebabkan kemampuan mereka dalam menilai, menganalisis, dan menyusun argumen secara kritis menjadi berkurang. Mahasiswa yang terlalu mengandalkan teknologi cenderung kurang terbiasa memeriksa keakuratan informasi, menghubungkan konsep-konsep yang berbeda, dan melakukan refleksi terhadap materi yang dipelajari. Ketika situasi ini berlangsung terus-menerus, kemampuan berpikir kritis yang seharusnya terasah selama masa pendidikan berisiko melemah, terutama dalam konteks klinis yang membutuhkan analisis mendalam dan pengambilan keputusan yang tepat (Salido et al., 2025).
Ketergantungan pada AI juga dapat membuat mahasiswa belajar secara pasif. Mereka mungkin lebih fokus mencari jawaban instan daripada memahami konsep secara menyeluruh. Pemahaman materi menjadi dangkal karena tidak melalui proses bertanya, membandingkan, dan menilai berbagai kemungkinan. Jika mahasiswa tidak lagi melibatkan diri dalam proses berpikir mandiri, kemampuan mereka untuk menganalisis kasus, menyusun penalaran ilmiah, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan logis akan semakin menurun. Dampak ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara penggunaan AI dan latihan berpikir kritis agar kemampuan intelektual mahasiswa tetap berkembang (Putra & Astuti, 2025).
KOLABORASI AKADEMIK UNTUK PENGGUNAAN AI YANG BIJAK
Integrasi AI yang etis dan efektif dalam kedokteran gigi memerlukan struktur tata kelola yang terkoordinasi, di mana setiap pemangku kepentingan (mahasiswa, pengajar, institusi, dan organisasi profesi) memiliki peran dan akuntabilitas yang jelas.
- Mahasiswa, dengan antusiasme yang tinggi terhadap AI, harus didorong untuk beralih dari sekadar konsumen menjadi evaluator yang kritis. Mereka wajib dibekali literasi AI untuk memahami keterbatasan model, potensi bias, dan risiko keluaran yang tidak akurat (hallucinated), sehingga AI berfungsi sebagai alat pendukung, bukan sumber ketergantungan (Salierno, 2023).
- Pengajar harus bertransformasi dari penyedia konten menjadi pemandu pedagogi yang melatih mahasiswa menerapkan, menafsirkan bias AI, dan memecahkan skenario klinis yang kompleks. Hal ini menuntut pengajar untuk merancang ulang penilaian agar menguji kemampuan sintesis dan pemikiran kritis yang tidak mudah diotomatisasi oleh AI, sekaligus mengatasi kurangnya pengetahuan dan pelatihan yang masih menjadi kendala besar di kalangan fakultas (Amiri et al., 2024).
- Institusi pendidikan harus mengambil peran regulasi proaktif dengan memberikan tata kelola yang jelas dan investasi infrastruktur yang signifikan. Institusi wajib menetapkan definisi AI yang terstandardisasi dan memprioritaskan kolaborasi yang dipimpin oleh klinisi (Clinician-Led Mandate), memastikan alat AI dirancang sesuai kebutuhan pedagogi kedokteran gigi, bukan mengadopsi solusi generik (El-Hakim et al., 2025).
- Organisasi profesi berperan mendorong pengembangan dan penerapan yang ketat terhadap pedoman etika yang menekankan transparansi, keadilan, dan privasi pasien dalam penggunaan AI baik di bidang pendidikan maupun praktik klinis. American Student Dental Association (ASDA) telah secara eksplisit melakukan hal tersebut (ASDA, 2024). Di Indonesia, organisasi seperti PDGI, harus secara definitif menetapkan bahwa keterampilan berpikir kritis dan komitmen dokter gigi terhadap standar perawatan tetap menjadi yang utama, terlepas dari alat teknologi yang digunakan. Memastikan bahwa AI diintegrasikan sebagai alat etis yang meningkatkan kompetensi adalah tanggung jawab kolektif, bukan menggantikannya.
MENGELOLA AI DENGAN PIKIRAN KRITIS
Penggunaan AI dalam belajar dapat sangat membantu apabila mahasiswa menempatkannya sebagai alat pendukung, bukan pengganti usaha memahami materi. AI mampu memberikan penjelasan cepat, contoh kasus, dan referensi tambahan, tetapi setiap informasi perlu dievaluasi kembali sebelum digunakan. Mahasiswa perlu membiasakan diri menilai relevansi, akurasi, dan kesesuaian informasi dengan konteks pembelajaran agar proses belajar tetap aktif dan berpikir kritis tidak tergantikan (Salido et al., 2025).
Selain itu, kemampuan berpikir mandiri tetap penting agar penggunaan AI tidak mengurangi latihan analisis dan penalaran. Mahasiswa sebaiknya tetap membandingkan hasil AI dengan sumber lain, membaca jurnal, atau berdiskusi dengan dosen dan teman. Dengan cara ini, AI menjadi alat bantu yang efektif, tetapi mahasiswa tetap terlatih dalam menilai informasi dan membuat keputusan secara bijak (Putra & Astuti, 2025).
Beberapa cara untuk menggunakan AI secara bijak antara lain:
- Menggunakan AI hanya sebagai alat bantu, bukan sumber utama jawaban.
- Memeriksa kembali informasi AI dengan buku, jurnal, atau penjelasan dosen.
- Membuat pertanyaan sendiri sebelum menggunakan AI, sehingga proses berpikir tetap berjalan.
- Mengevaluasi relevansi dan akurasi informasi berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.
- Menggabungkan AI dengan diskusi kelompok atau studi kasus untuk memperkuat kemampuan analisis.
KESIMPULAN
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan kedokteran gigi membawa peluang besar sekaligus tantangan yang signifikan. AI mampu meningkatkan akurasi diagnostik, memperkaya pengalaman belajar melalui simulasi klinis, serta mendukung pembelajaran personal dengan umpan balik adaptif. Inovasi ini sejalan dengan tren pendidikan berbasis kompetensi yang berpusat pada mahasiswa, sehingga dapat mempercepat pencapaian keterampilan klinis dan akademik. Namun, manfaat tersebut hanya dapat optimal jika AI diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti penalaran kritis dan pengambilan keputusan mandiri. Tanpa sikap kritis, mahasiswa berisiko kehilangan kemampuan analisis mendalam dan nalar klinis yang esensial bagi profesi kedokteran gigi.Oleh karena itu, integrasi AI harus dilakukan secara bijak melalui kolaborasi akademik yang melibatkan mahasiswa, pengajar, institusi, dan organisasi profesi. Literasi AI, tata kelola yang jelas, serta pedoman etika yang ketat menjadi fondasi agar teknologi ini berfungsi sebagai solusi cerdas, bukan awal dari ketergantungan. Mahasiswa perlu dilatih untuk tetap aktif berpikir, memeriksa keakuratan informasi, dan menggabungkan hasil AI dengan sumber ilmiah lain. Dengan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan nalar kritis, AI dapat menjadi sahabat belajar yang transformatif, menjaga kualitas pendidikan, sekaligus memastikan masa depan profesi kedokteran gigi tetap berlandaskan kompetensi dan integritas.
PENULIS
Ni Made Mas Indira Patanjali
Komang Savitri Prabhaswarajnana Ksatria Utami
Ivana Jesslyn
DAFTAR PUSTAKA
American Student Dental Association (ASDA). (2024). H-15 Ethical Use of AI in Dental Settings (2024). Diambil dari https://www.asdanet.org/about-asda/leaders-and-governance/current-statements-of-position-or-policy/dental-education-administration/statement-on-policy/h-15-ethical-use-of-ai-in-dental-settings-(2024).
Amiri, H., Peiravi, S., rezazadeh shojaee, S. S., Rouhparvarzamin, M., Nateghi, M. N., Etemadi, M. H., … & Asadi Anar, M. (2024). Medical, dental, and nursing students’ attitudes and knowledge towards artificial intelligence: a systematic review and meta-analysis. BMC Medical Education, 24(1), 412.
Apdillah, D., & Sari, K. (2025). Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan: Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dengan Teknologi. Dira Media Kreasindo.
El-Hakim, M., Anthonappa, R., & Fawzy, A. (2025). Artificial Intelligence in Dental Education: A Scoping Review of Applications, Challenges, and Gaps. Dentistry Journal, 13(9), 384.
Putra, R. S. E., & Astuti, N. W. (2025). Dampak ketergantungan penggunaan artificial intelligence (AI) terhadap kemampuan berpikir kritis pada mahasiswa di Indonesia. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4), 33–47.
Salido, A., Syarif, I., Sitepu, M. S., Suparjan, P. R. W., et al. (2025). Integrating critical thinking and artificial intelligence in higher education: A bibliometric and systematic review of skills and strategies. Social Sciences & Humanities Open, 101924.
Salierno, C. (2023). Dentistry and AI: Ethical Considerations for the Coming Revolution. aJACD, 90(3), 8-12.
#HMKGSarkara
#SatuRasaDedikasi
#FKUnud
#VivaHippocrates









