Persepsi dan Ketakutan Masyarakat Terhadap Pencabutan Gigi
Pencabutan gigi masih menjadi salah satu tindakan kedokteran gigi yang paling sering ditakuti masyarakat. Banyak orang merasa cemas karena membayangkan rasa sakit saat pencabutan, takut terjadi perdarahan, atau khawatir akan muncul komplikasi setelah gigi dicabut. Selain itu, sebagian pasien juga merasa takut kehilangan kontrol selama tindakan dilakukan dan merasa tidak yakin dengan hasil perawatannya. Rasa takut terhadap komplikasi merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya kecemasan pasien sebelum pencabutan gigi dilakukan (Niemczyk et al., 2024).
Persepsi masyarakat terhadap pencabutan gigi juga dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan lingkungan sekitar. Pengalaman buruk saat berobat ke dokter gigi, rasa takut terhadap suntikan anestesi, maupun suara alat kedokteran gigi dapat membuat seseorang semakin cemas menjalani pencabutan gigi. Selain itu, cerita dari keluarga, teman, maupun informasi di media sosial juga sering memengaruhi cara masyarakat memandang tindakan pencabutan gigi. Seseorang yang pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat perawatan gigi cenderung memiliki rasa takut yang lebih tinggi dan lebih sering menunda kunjungan ke dokter gigi (Muneer et al., 2022).
Tingginya rasa takut terhadap pencabutan gigi membuat berbagai cara dikembangkan untuk membantu pasien merasa lebih tenang sebelum tindakan dilakukan. Ketakutan yang berlebihan dapat menyebabkan pasien menunda perawatan hingga kondisi gigi menjadi semakin parah. Kecemasan pada pasien yang menjalani pencabutan gigi cukup sering ditemukan, terutama pada pencabutan gigi bungsu. Oleh karena itu, edukasi yang baik, komunikasi yang menenangkan dari dokter gigi, serta teknik relaksasi dapat membantu mengurangi rasa takut pasien sebelum pencabutan gigi dilakukan (Luque-Hernández et al., 2022).
Mitos Pasca Pencabutan Gigi

Gambar 1. Viral Kasus dugaan Kebutaan Pasca Pencabutan gigi Sumber: DetikNews (2025) dan TikTok @tvonenews (2025)
Pencabutan gigi masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos yang membuat masyarakat takut datang ke dokter gigi. Salah satu mitos yang paling populer adalah anggapan bahwa pencabutan gigi terutama pada rahang atas dapat menyebabkan kebutaan. Ketakutan ini kembali ramai diperbincangkan setelah muncul pemberitaan mengenai seorang pemuda di Padang Pariaman yang diduga mengalami kebutaan usai menjalani pencabutan gigi di sebuah klinik gigi. Kasus tersebut viral di media sosial, termasuk TikTok, dan membuat banyak masyarakat semakin percaya bahwa pencabutan gigi merupakan prosedur yang berbahaya. Padahal, berbagai kesalahpahaman mengenai pencabutan gigi sering kali muncul akibat kurangnya edukasi kesehatan gigi dan penyebaran informasi yang tidak lengkap di masyarakat (Obisesan et al., 2022).
Mitos lain yang juga sering dipercaya adalah darah bekas pencabutan tidak akan berhenti keluar setelah gigi dicabut. Perdarahan ringan sebenarnya merupakan hal yang normal karena tubuh sedang membentuk bekuan darah untuk membantu proses penyembuhan luka. Meski demikian, banyak orang menganggap keluarnya darah setelah pencabutan sebagai kondisi yang berbahaya sehingga menimbulkan kepanikan. Padahal, perdarahan berkepanjangan pasca pencabutan umumnya hanya terjadi pada kondisi tertentu, seperti gangguan pembekuan darah, penggunaan obat tertentu, atau perawatan luka yang kurang tepat setelah pencabutan gigi (Dignam et al., 2024).
Sebagian masyarakat juga percaya pencabutan gigi dapat menyebabkan bentuk wajah menjadi cekung dalam waktu singkat dan tidak boleh dilakukan saat menstruasi. Kenyataannya, perubahan bentuk wajah tidak terjadi secara instan setelah satu kali pencabutan gigi, melainkan biasanya baru terlihat apabila banyak gigi hilang dalam jangka waktu lama tanpa adanya penggantian gigi tiruan. Berbagai mitos tersebut sering membuat pasien memilih mempertahankan gigi yang sudah rusak parah dibanding menjalani pencabutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan gigi dan mulut masih sangat diperlukan agar masyarakat dapat membedakan antara fakta medis dan informasi yang berkembang secara turun-temurun (Appukuttan, 2021).
Dampak Informasi yang Keliru Terhadap Kesehatan Rongga Mulut
Informasi yang keliru mengenai pencabutan gigi dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan rongga mulut masyarakat. Informasi yang tidak tepat, terutama yang tersebar melalui cerita turun-temurun dan media sosial, sering membuat masyarakat merasa takut untuk datang ke dokter gigi. Akibatnya, banyak pasien memilih menunda pemeriksaan dan mempertahankan gigi yang sebenarnya sudah mengalami kerusakan parah. Kondisi ini dapat memperburuk infeksi dan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada rongga mulut akibat keterlambatan penanganan (Obisesan et al., 2022).
Ketakutan akibat informasi yang keliru juga dapat menyebabkan masyarakat lebih percaya pada pengobatan mandiri dibandingkan perawatan profesional. Beberapa orang memilih mengkonsumsi obat pereda nyeri secara terus-menerus atau menggunakan metode tradisional tanpa mengetahui penyebab utama keluhan gigi yang dialami. Padahal, rasa nyeri hanya akan berkurang sementara apabila sumber infeksinya tidak ditangani. Rendahnya literasi kesehatan gigi dan mulut membuat masyarakat lebih mudah percaya pada informasi yang belum terbukti secara ilmiah, terutama yang beredar di media sosial (Appukuttan, 2021).
Perkembangan media sosial turut mempercepat penyebaran informasi yang belum tentu benar mengenai kesehatan gigi dan mulut. Konten yang bersifat sensasional biasanya lebih mudah menarik perhatian masyarakat dibandingkan penjelasan medis yang ilmiah. Kondisi ini dapat membentuk persepsi negatif terhadap prosedur kedokteran gigi, termasuk pencabutan gigi, sehingga masyarakat menjadi semakin takut menjalani perawatan. Oleh karena itu, penyampaian edukasi kesehatan yang jelas, mudah dipahami, dan berbasis ilmiah sangat penting untuk membantu masyarakat membedakan antara fakta medis dan mitos yang berkembang di lingkungan sekitar (Dignam et al., 2024).
Tinjauan Ilmiah Mengenai Risiko Dan Komplikasi Pencabutan Gigi
Pencabutan gigi merupakan tindakan yang cukup sering dilakukan dalam perawatan kedokteran gigi dan umumnya aman apabila dilakukan sesuai prosedur yang benar. Meski begitu, seperti tindakan medis lainnya, pencabutan gigi tetap memiliki risiko komplikasi baik saat maupun setelah tindakan dilakukan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain perdarahan, sisa akar yang patah, infeksi, dry socket, hingga cedera pada jaringan di sekitar gigi yang dicabut. Namun, sebagian besar komplikasi tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui pemeriksaan yang baik sebelum tindakan, pemilihan teknik pencabutan yang tepat, serta perhatian terhadap kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh (Rizqiawan et al., 2022).
Salah satu komplikasi yang cukup sering terjadi setelah pencabutan gigi adalah dry socket (Kusnierek et al., 2022). Kondisi ini terjadi ketika gumpalan darah yang seharusnya menutupi luka bekas pencabutan gigi lepas atau tidak terbentuk dengan baik, sehingga tulang di area bekas cabutan menjadi terbuka Akibatnya, pasien dapat merasakan nyeri yang cukup hebat beberapa hari setelah gigi dicabut. Kebiasaan merokok diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya dry socket karena mengganggu proses penyembuhan dan meningkatkan kemungkinan lepasnya bekuan darah. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk menghindari merokok serta aktivitas yang menimbulkan tekanan hisap pada rongga mulut, seperti penggunaan sedotan, selama masa awal penyembuhan, guna menjaga stabilitas bekuan darah dan mendukung proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi.
Infeksi setelah pencabutan gigi juga perlu diperhatikan, terutama pada pencabutan gigi bungsu atau gigi yang sebelumnya sudah mengalami infeksi (Sologova et al., 2022). Risiko infeksi dapat meningkat apabila kebersihan mulut kurang terjaga, pencabutan dilakukan pada kasus yang sulit, atau pasien tidak mengikuti anjuran dokter setelah tindakan dilakukan. Oleh karena itu, pemeriksaan sebelum pencabutan dan edukasi mengenai cara merawat luka setelah pencabutan sangat penting untuk membantu mencegah komplikasi. Dengan penanganan yang tepat dan kerja sama pasien dalam menjaga kebersihan rongga mulut, sebagian besar komplikasi pasca pencabutan gigi sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan dengan baik.
Edukasi Dan Upaya Pencegahan Komplikasi Pencabutan Gigi
Perawatan setelah pencabutan gigi menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya komplikasi pasca pencabutan. Meskipun pencabutan gigi termasuk prosedur yang umum dilakukan, pasien tetap perlu memahami cara menjaga area bekas pencabutan agar proses penyembuhan berjalan dengan baik. Kurangnya edukasi mengenai perawatan pasca pencabutan dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti perdarahan, infeksi, dan dry socket setelah pencabutan gigi (Kolokythas et al., 2021). Oleh karena itu, dokter gigi memiliki peran penting dalam memberikan instruksi pasca pencabutan yang jelas dan mudah dipahami oleh pasien.
Perawatan sehari-hari yang tepat dapat membantu mempercepat penyembuhan luka dan mengurangi risiko komplikasi. Secara umum, beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi:
● Menggigit kasa sesuai instruksi dokter gigi untuk membantu menghentikan perdarahan
● Menghindari berkumur terlalu keras, meludah berlebihan, atau menggunakan sedotan selama 24 jam pertama setelah pencabutan
● Menghindari kebiasaan merokok karena dapat mengganggu proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko dry socket
● Mengonsumsi makanan lunak dan tidak terlalu panas selama masa pemulihan
● Menjaga kebersihan rongga mulut secara perlahan agar area luka tetap bersih tanpa mengganggu proses penyembuhan
● Mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter gigi dan tidak menggunakan obat sembarangan tanpa pengawasan tenaga kesehatan
● Mengompres area pipi dengan kompres dingin untuk membantu mengurangi pembengkakan setelah pencabutan (Bouloux et al., 2022)
● Menghindari aktivitas fisik berat selama masa awal penyembuhan karena dapat memicu perdarahan ulang pada area pencabutan (Cho et al., 2023)
Kontrol rutin setelah pencabutan gigi juga diperlukan untuk mengevaluasi proses penyembuhan luka dan mendeteksi komplikasi sejak dini, seperti infeksi, pembengkakan, atau perdarahan berkepanjangan. Pasien dianjurkan segera kembali ke dokter gigi apabila mengalami nyeri hebat, perdarahan yang sulit berhenti, atau pembengkakan yang semakin besar setelah pencabutan. Edukasi kesehatan gigi dan mulut yang tepat dapat membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap instruksi dokter sehingga proses penyembuhan berjalan lebih optimal dan risiko komplikasi dapat diminimalkan (de Santana-Santos et al., 2022).
KESIMPULAN
Pencabutan gigi merupakan prosedur kedokteran gigi yang umumnya aman apabila dilakukan sesuai prosedur dan disertai perawatan pasca tindakan yang tepat. Namun, berbagai persepsi negatif dan mitos yang berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa cabut gigi dapat menyebabkan kebutaan, perdarahan tidak berhenti, atau perubahan bentuk wajah secara instan, masih menjadi penyebab utama meningkatnya rasa takut dan penundaan perawatan gigi. Padahal, komplikasi pasca pencabutan seperti perdarahan, infeksi, dan dry socket. umumnya dapat dicegah melalui pemeriksaan yang baik, teknik pencabutan yang tepat, kepatuhan pasien terhadap instruksi dokter, serta menjaga kebersihan rongga mulut. Penyebaran informasi palsu melalui lingkungan sekitar dan media sosial juga turut memperburuk persepsi masyarakat terhadap tindakan pencabutan gigi. Oleh karena itu, edukasi kesehatan gigi dan mulut yang berbasis ilmiah, komunikasi yang baik antara dokter gigi dan pasien, serta peningkatan literasi kesehatan masyarakat sangat penting untuk membantu masyarakat membedakan fakta medis dari mitos sehingga pasien tidak takut menjalani perawatan yang sebenarnya diperlukan demi menjaga kesehatan rongga mulut.
PENULIS
Aurelia Amelia
Ivana Jesslyn
DAFTAR PUSTAKA
- Appukuttan, D. P. (2021). Strategies to manage patients with dental anxiety and dental phobia: literature review. Clinical, Cosmetic and Investigational Dentistry, 13, 35–50.
- Bouloux, G. F., Steed, M. B., & Perciaccante, V. J. (2022). Complications of third molar surgery. Oral and Maxillofacial Surgery Clinics of North America, 34(1), 75–86.
- Cho, H., Lynham, A. J., & Hsu, E. (2023). Postoperative instructions and prevention of complications after dental extraction. Australian Dental Journal, 68(2), 145–152.
- de Santana-Santos, T., de Souza-Santos, J. A., Martins-Filho, P. R., da Silva, L. C., de Oliveira E Silva, E. D., & Gomes, A. C. (2022). Prediction of postoperative complications in oral surgery: A prospective study. Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 80(4), 640–647.
- DetikNews. (2025). Andre Rosiade beri bantuan pemuda diduga alami kebutaan usai cabut gigi. Tersedia pada: https://news.detik.com/berita/d-8005688/andre-rosiade-beri-bantuan-pemuda-diduga-alami-kebutaan-usai-cabut-gigi (Diakses: 24 Mei 2026).
- Dignam, P., Elshafey, M., Jeganathan, A., Foo, M., Park, J. S., & Ratnaweera, M. (2024). Prevalence and factors influencing post-operative complications following tooth extraction: A narrative review. International Journal of Dentistry, 2024, 7712829.
- Kolokythas, A., Olech, E., & Miloro, M. (2021). Alveolar osteitis: A comprehensive review of concepts and controversies. International Journal of Dentistry, 2021, 2490732.
- Kuśnierek, P., Mistry, K. and Dąbrowski, J. (2022) ‘Smoking as a Risk Factor for Dry Socket: A Systematic Review’, Dentistry Journal, 10(7), p. 121.
- Luque-Hernández, C., et al. (2022). Non-Pharmacological Interventions for Reducing Fear and Anxiety in Patients Undergoing Third Molar Extraction: A Systematic Review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(18), p. 11162
- Muneer, M.U., et al. (2022). Dental Anxiety and Influencing Factors in Adults. Healthcare, 10(12), p. 2352.
- Niemczyk, M., et al. (2024). Factors Influencing Peri-Extraction Anxiety: A Cross-Sectional Study. Dentistry Journal, 12(6), p. 187.
- Obisesan, O., Bryant, C., & Shah, A. (2022). When dental extractions go wrong: An overview of common complications and management. Primary Dental Journal, 11(3), 88–97.
- Rizqiawan, A., et al. (2022). Postoperative Complications of Impacted Mandibular Third Molar Extraction Related to Patient’s Age and Surgical Difficulty Level: A Cross-Sectional Retrospective Study. International Journal of Dentistry, 2022, pp. 1–8.
- Sologova, D., et al. (2022). Antibiotics Efficiency in the Infection Complications Prevention after Third Molar Extraction: A Systematic Review. Dentistry Journal, 10(4), p. 72.
#HMKGARUNA
#HangatBersamaKuatMelangkah
#FKUnud
#VivaHippocrates







Leave a Reply